Sabtu, 21 Juli 2012

Motivasi Menulis



Scripta Manen Verba Volant:
"yang tertulis akan tetap abadi,
yang terucap akan berlalu bersama angin"

Untuk apa menulis? Barangkali banyak orang masih bingung ketika disodori pertanyaan tersebut. Wajar, karena persoalan menulis memang belum membudaya di tanah air. Jangankan masyarakat umum, mereka yang menyandang gelar doktor bahkan profesor sekalipun bisa jadi banyak yang masih kesulitan dalam soal menulis (menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan). Ini terbukti dengan masih minimnya publikasi karya ilmiah (populer) yang bisa kita akses, baik melalui media cetak maupun media interaktif (internet).
Untuk merangsang para ahli di bidangnya berbagi gagasan, muncul beberapa situs internet agar ilmu pengetahuan bisa diakses dengan luas dan mudah. Munculnya situs internet semisal www.beritaiptek.com atau www.netsains.com patut kita apresiasi karena dengan munculnya situs tersebut para ilmuwan yang kebanyakan berlatarbelakang eksakta menjadi termotivasi untuk berbagi ilmu yang dimilikinya. Begitu juga dengan munculnya situs www.penulislepas.com Situs yang fokus mempublikasikan tulisan ilmiah populer. Situs ini didirikan oleh Jonriah Ukur atau yang akrab dipanggil Jonru, pria berkacamata yang sudah menerbitkan beberapa novel dan buku-buku seputar kepenulisan. Lewat situs ini, siapapun boleh mempublikasikan karya dengan kekhususan tulisan non-fiksi (baik berupa artikel, berita, informasi lomba kepenulisan maupun resensi buku).
Saat ini, situs tersebut masih ramai sebagai media publikasi para penulis lepas di tanah air bahkan beberapa penulis yang tinggal di luar negeri. Untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam bidang tulis menulis, kemudian Jonru mendirikan institusi khusus sekolah menulis online yang beralamat di www.belajarmenulis.com. Sementara, secara khusus situs www.penulislepas.com sekarang dikelola secara profesional dengan mengangkat Yons Achmad sebagai content manager. Segala urusan mengenai isi situs menjadi tanggungjawab lelaki pecinta sastra asal Magelang ini.

Melihat kenyataan yang ada, memang, menulis tentu saja bukan hanya persoalan para pengarang, penulis atau wartawan saja. Siapapun diri kita, berprofesi apapun, kemampuan menulis itu diperlukan. Sepanjang kita masih punya otak dan hati, sepanjang kita masih hidup, aktivitas menulis akan senantiasa menyertai. Misalnya, dalam kehidupan keseharian, komunikasi kita tentu tidak hanya sebatas ucapan lisan saja. Sering kita harus membangun komunikasi dengan orang-orang yang jauh. Maka, tulisan menjadi penting sebagai jembatan komunikasi sekaligus media yang lebih memungkinkan orang mengeluarkan gagasan secara serius dan sistematis. Biasanya, kalau ucapan kerap kali hanya luapan spontanitas saja. Sedangkan, tulisan lebih mempunyai bobot tersendiri karena sudah pasti kita memikirkan dan merenungkannya terlebih dahulu sebelum menuangkannya dalam sebuah karya. Kegagapan dan ketidakmampuan dalam menulis, akan menyebabkan salah persepsi dan kegagalan komunikasi. Jika ini terjadi, bisa berakibat fatal pada karier yang digeluti maupun dalam hubungan personal dalam kehidupan bisnis dan kesehariannya. Lantas, bagi mereka yang akan meniti karir dan bercita-cita punya profesi terkait dengan dunia tulis menulis (misalnya wartawan, editor, pengarang), persoalannya akan lebih kompleks lagi. Sebab, persoalan menulis tidak hanya sebatas alat komunikasi saja. Tetapi lebih dari itu, menulis adalah soal bagaimana berpikir dengan baik, bersinggungan dengan soal kemanusiaan, panggilan hidup, estetika kebahasaan, bahkan keberpihakan kepada masyarakat kecil. Nah, dalam ulasan singkat ini, akan diberikan semacam tips-tips segar kepada Anda agar lebih bergairah dan lebih serius lagi dalam mengeluti dunia tulis menulis;

1. Jangan sekedar hobi.
Masih banyak orang yang menjadikan aktivitas menulis sekedar hobi belaka. Tak salah memang. Hanya saja, ternyata menulis pun bisa dijadikan alternatif profesi, dalam arti mereka mendapatkan nafkah dan penghasilan dari sana. Barangkali muncul pertanyaan, bisakah hidup layak dengan menjadi seorang penulis ?. Saya kira ini tergantung kerja keras masing-masing individu. Sudah terlalu banyak contoh orang-orang yang sukses menjadi seorang penulis full time. Sebut saja Ahmad Tohari, penulis novel “Ronggeng Dukuh Paruk” yang kini juga menjadi kolumnis sosial keagamaan di rubrik “Resonansi” Koran Republika. Habibburahman El-Sirazy pengarang novel “Ayat-Ayat Cinta”. Atau JK Rowling, pengarang “Harry Potter” yang kini menjadi miliyader dari hasil penjualan bukunya. Barangkali, contoh di atas terlalu hebat untuk diketengahkan. Baiklah, sekarang sebagai gambaran saja, ketika orang menulis (4-5 halaman) dan dimuat di media lokal, biasanya mendapat honor Rp.100 ribu-Rp.300 ribu. Untuk media nasional sekitar Rp.300 ribu-Rp 1 juta. Cukup lumayan bukan. Apalagi bagi penulis yang mau menulis buku. Hasilnya, tentu akan lebih baik lagi. Di Tanah air, sistem pembagian keuntungan buku karya seorang penulis berkisar 10-15%. Misalnya, buku seharga 25 ribu terjual seribu eksemplar, penulis mendapat 2,5 juta. Biasanya, rata-rata penerbit mencetak awal buku sebanyak tiga ribu eksemplar dan kalau ternyata laris di pasar, baru cetak lagi. Namun, perhitungan tersebut biasanya berkorelasi positif dengan kerja keras dan produktifitas dalam menelorkan karya. Semakin produktif dan karya digemari masyarakat, semakin meningkat pula taraf hidup penulis.
Disisi lain, seorang penulis, kalau sedang beruntung (menjadi penulis selebritis), hasilnya akan bertambah lagi karena biasanya diundang ke berbagai acara, baik untuk mengisi materi terkait dengan buku yang ditulis, maupun berbagi pengalaman atas proses kreatifnya dalam menulis. Dari sini, otomatis penulis juga mendapatkan tambahan penghasilan.

2. Prioritaskan bacaan.
Agar ide dan pikiran tidak buntu, baca buku adalah solusinya. Seorang penulis sejati, tidak bisa tidak, ia harus akrab dengan buku. Bukan hanya menjadi kutu buku, lebih dari itu, ia perlu menjadi “predator buku”. Melahap berbagai buku, seperti kata Hernowo penulis buku “Quantum Reading” menjadikan buku ibarat sepotong pizza. Memang, tidak semua buku harus kita baca. Memilih buku-buku bermutu serta memprioritaskan jenis dan waktu membaca itu perlu. Helvy Tiana Rosa, pendiri komunitas penulis Forum Lingkar Pena (FLP) punya saran yang baik. Yaitu membaca 3 jenis buku dalam sebulan, tentang keagamaan, tentang hobi atau minat kajian yang diminati, dan tentang buku yang terkait latar belakang pendidikan seseorang. Dengan pengaturan seperti itu, pikiran kita akan lebih fokus, ide-ide bermunculan sehingga aktivitas menulis terus berkembang. Misalnya seorang dokter yang kebetulan beragama Islam tapi suka menulis. Dalam sebulan, ia perlu melahap setidaknya satu buku tentang keagamaan (tak melulu soal keagamaan sich, tapi juga bisa terkait dengan bidangnya, contohnya buku “Aborsi dalam pandangan Islam). Satu buku tentang “Kanker” (sesuai dengan bidang keahliannya), satu buku lagi yang berjenis novel (karena ia suka sastra) atau “Teknik Origami” (karena ia orang yang suka seni melipat kertas).

3. Gunakan hati.
Aktivitas menulis tak cukup dengan wawasan pikiran dan referensi buku semata. Kita perlu menggunakan hati. Seperti dalam kehidupan keseharian, orang akan lebih senang diajak bicara secara lembut. Siapapun pasti tak akan suka dibentak-bentak, diperlakukan kasar oleh orang lain. Bahkan seorang preman pun tak mau diperlakukan begitu. Dalam menulis juga perlu melakukan hal yang sama. Kalau ingin melakukan kritik pada seseorang atau lembaga, cara yang halus perlu dimunculkan pada karya tulisan kita. Jika memang perlu menyindir atau menyentil, lakukan dengan cara yang tidak frontal dan dengan kata-kata yang tidak memerahkan telinga. Prinsipnya, selalu menulislah dengan hati, karena biasanya sesuatu yang dari hati, akan sampai ke hati pula. Kita berharap dengan begitu orang akan berbalik pikiran dan berubah menjadi lebih baik setelah membaca karya kita. Kalau seorang penulis bisa melakukan kebajikan semacam ini, betapa mulianya dia.

4. Mulailah dari hidupmu.
Banyak orang yang kesulitan mau menulis apa. Kadang, tidak menyadari bahwa setiap manusia, perjalanan dan pengalaman hidupnya pasti punya sesuatu yang menarik, sesuatu yang unik. Bukankah ini inspirasi tersendiri ?. Oke, sekarang mulailah menuliskan cerita-cerita kita. Mulai dari yang terdekat yang bisa kita rasakan dan kita temui sehari-hari. Kata kuncinya “Jangan pikirkan apa yang akan Anda tulis, tapi tulislan apa yang ada dalam pikiran Anda”. Torey Haden, penulis novel “Sheila”, buku yang laris manis itu, pernah mengatakan “Aku sama seperti kalian, yang membedakan hanya karena Aku menuliskannya”. Begitulah, ia menuliskan pengalaman hidupnya sebagai seorang guru untuk anak-anak “Keterbelakangan mental”, ternyata buku-buku itu digemari masyarakat karena temanya yang menarik, unik, tentu juga karena gaya penceritaannya yang menyentuh jiwa. Lain dengan Bayu Gawtama (www.gawtama.blogspot.com), ia rajin menuliskan catatan hariannya. Sampai saat kini 3 buku telah terhasilkan. Ceritanya cukup sederhana, lagi-lagi menarik karena berbasis pengalaman pribadi dengan sentuhan personal yang khas. Begitu juga novel “Laskar Pelangi” Karya Andre Hirata (www.sastrabelitong.multiply.com), kisahnya tak lain adalah pengalaman pribadi dan memori masa kecilnya. Nah, kini saatnya Anda menuliskan sesuatu yang dirasa menarik dalam hidup. Yah siapa tahu kelak layak diterbitkan menjadi buku. Siapa tahu laris, siapa tahu kelak Anda menjadi penulis hebat. Siapa tahu...siapa tahu.

5. Tradisi kaum intelektual.
Menulis itu tradisi kaum intelektual. Jika ada problem serius dimata umum (publik), ia menulis, menjelaskan duduk masalahnya. Kemudian, punya alternatif pemikiran bagaimana jalan keluar dari masalah tersebut. Kalau boleh dibilang, belum cukup rasanya sebutan intelektual kalau ia tak punya karya (tertulis) satupun. Karena itu, menulis, sampai hari ini masih menjadi tradisi kaum intelektual. Dengan membaca tulisan, baik artikel atau buku, kita akan mendapatkan pemahaman yang cukup dan utuh tentang sebuah pokok permasalahan. Hal ini akan sangat berbeda kalau hanya sekedar mendengar ucapan semata. Misalnya ketika seorang pakar berpidato dengan isi yang hebat dan punya kadar keilmiahan yang tinggi, bisa jadi orang sudah melupakannya seminggu atau sebulan kemudian, walaupun pada saat disampaikan paham betul. Berbeda ketika seorang pakar mau menuliskannya, walau dalam artikel singkat saja, pengetahuan ini akan terus dibaca dan bisa terus diingat orang. Apalagi kalau memang kualitas karyanya bemutu, dengan senang hati banyak orang yang kelak akan mengirimkan tulisan (pengetahuan) tersebut kepada teman-temannya, lingkungan pekerjaannya, dst. Pada intinya, ketika orang mau menulis, pengetahuan yang dihasilkan tidak akan hilang ditelan zaman. Demikianlah sekilas bagaimana gairah menulis itu bisa kita munculkan. Setelah kita tahu beragam manfaat dari sebuah tulisan, saatnya sekarang adalah mempraktekkannya. Karena motivasi dan niat untuk menulis saja tak cukup. Seperti kata Kuntowijoyo (alm), Budayawan Jogjakarta, untuk bisa menulis itu cukup mudah dan sederhana, rumusnya adalah “DUDUK DAN LAKUKAN”. Itu saja. (yons achmad). Sumber: http://pustaka-ebook.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar